USD/IDR: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.860 saat Taruhan Kenaikan The Fed Mereda jelang PPI AS

  • Kurs Rupiah menguat tipis 5 poin dan ditutup di Rp17.860 per Dolar AS pada perdagangan Kamis.
  • JISDOR Bank Indonesia justru naik menjadi Rp17.882 dari Rp17.876 pada Rabu.
  • Inflasi AS yang lebih lunak mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed, sementara pasar menunggu data PPI AS malam ini.

Rupiah Indonesia (IDR) berbalik menguat tipis pada perdagangan Kamis dan ditutup di Rp17.860 per Dolar AS (USD), naik 5 poin dari penutupan Rabu di Rp17.865. Pergerakan tersebut membawa pasangan mata uang USD/IDR sedikit lebih rendah, ketika meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah data inflasi AS memberi ruang bagi mata uang domestik.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia bergerak berlawanan dengan pasar spot dan ditetapkan di Rp17.882 per Dolar AS, sedikit lebih lemah dari Rp17.876 pada Rabu. Di pasar global, Dolar AS tetap bertahan dekat level tertinggi sembilan hari di tengah ketidakpastian konflik Iran, sementara harga minyak bergerak lebih rendah dan perhatian investor beralih ke data inflasi produsen AS.

Stabilitas Rupiah Beri Ruang bagi BI Menahan Suku Bunga

Radhika Rao dari DBS Group Research menilai kondisi pasar domestik Indonesia tetap relatif stabil, ditandai dengan Rupiah yang bertahan di bawah Rp18.000 per Dolar AS dan imbal hasil obligasi yang mereda dari level tertingginya. Menurutnya, kondisi mata uang yang lebih stabil bersama pertumbuhan ekonomi kuartal II yang relatif kuat mengurangi kebutuhan bagi Bank Indonesia (BI) untuk segera mengubah kebijakan suku bunga.

“Laporan pertumbuhan kuartal II yang relatif kuat dan stabilitas Rupiah membuat alasan bagi BI untuk mempertahankan suku bunganya bulan ini,” kata Rao. Pandangan tersebut menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu faktor yang dapat memberi BI ruang untuk mempertahankan kebijakan saat pertemuan bulan ini.

Dolar Bertahan Dekat 100 meski Taruhan Kenaikan The Fed Menurun

Dari AS, Indeks Harga Konsumen (IHK atau CPI) Juli naik 0,1% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti meningkat 0,2% secara bulanan dan melambat menjadi 2,5% secara tahunan. Angka tersebut memperkuat indikasi bahwa tekanan harga mulai mereda dan mengurangi kebutuhan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar memangkas probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 40% dari 55% sebelumnya. Namun, pelemahan Dolar tidak berlanjut karena ketidakpastian mengenai konflik Iran menopang permintaan terhadap Greenback. Indeks Dolar AS (DXY) naik ke 99,98 di sesi Eropa setelah sempat mencapai 100,08, level tertinggi sejak 31 Juli.

Harga minyak yang sebelumnya menjadi salah satu sumber tekanan bagi Rupiah bergerak turun cukup tajam pada Kamis. WTI melemah 1,83% ke US$81,75 per barel, sementara Brent turun 1,81% ke US$87,37. Harga minyak tertekan oleh prospek permintaan global yang lebih lemah dan lonjakan persediaan minyak mentah AS, meski kebuntuan perundingan AS–Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjaga risiko gangguan pasokan tetap tinggi.

PPI AS Menjadi Fokus Berikutnya

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada Indeks Harga Produsen (IHP atau PPI) AS Juli yang dijadwalkan dirilis Kamis pukul 19.30 WIB. Data tersebut akan menjadi pengujian berikutnya terhadap pandangan bahwa tekanan inflasi AS mulai mereda. Angka yang lebih lunak dapat semakin mengurangi taruhan kenaikan suku bunga The Fed dan membatasi Dolar, sementara kejutan inflasi yang lebih tinggi berpotensi kembali memberikan tekanan pada Rupiah.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produsen (Thn/Thn)

Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Agu 13, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 4.9%

Sebelumnya: 5.5%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Produksi Industri Zona Euro tetap datar di bulan Juni versus -0,1% estimasi

Aktivitas sektor industri Zona Euro tetap datar pada bulan Juni, sementara diprakirakan akan turun 0,1%, menurut data yang diterbitkan oleh Eurostat. Pada bulan Mei, Produksi Industri mengalami kontraksi sebesar 0,3%, direvisi turun dari -0,2%.
আরও পড়ুন Previous

Yen Jepang: Ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ mendukung JPY terhadap Dolar AS - MUFG

Lee Hardman dari MUFG mencatat bahwa Yen Jepang telah menguat secara moderat karena pasar mengantisipasi laju pengetatan kebijakan Bank of Japan yang lebih cepat.
আরও পড়ুন Next