USD/IDR: Rupiah Tertekan ke Rp17.640, Reshuffle Menkeu Jadi Sorotan Pasar

  • Kurs Rupiah melemah 55 poin ke Rp17.640 per Dolar AS, sementara JISDOR naik ke Rp17.635 dari Rp17.611 pada Jumat.
  • Reshuffle Menteri Keuangan menjadi perhatian domestik, dengan Suahasil Nazara menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
  • DXY naik di atas 99,50, imbal hasil AS mendekati 5%, dan Brent menembus US$108 menjelang keputusan The Fed.

Rupiah Indonesia (IDR) kembali melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Senin, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.640 dari Rp17.585 pada Jumat. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) juga naik menjadi Rp17.635 dari Rp17.611. Dari dalam negeri, pasar mencermati reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, di tengah arus keluar asing dari SRBI. Sementara itu, tekanan eksternal datang dari DXY yang menguat ke di atas 99,50, imbal hasil Treasury AS 10-tahun yang mendekati 5%, serta Brent yang melonjak di atas US$108 per barel menjelang keputusan suku bunga The Fed.

Reshuffle Menteri Keuangan RI Jadi Sorotan Domestik

Presiden Prabowo pada Senin menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa dalam reshuffle kabinet. Pemerintah belum menyampaikan alasan resmi pergantian tersebut. Purbaya sebelumnya sempat menjadi sorotan setelah menyebut Danantara berpotensi menyetor sekitar Rp120 triliun ke APBN, sementara pihak Danantara kemudian memberikan klarifikasi yang tidak sepenuhnya sejalan dengan pernyataan tersebut. Perhatian terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia juga telah meningkat sejak awal tahun, setelah Moody’s pada Februari dan Fitch pada Maret menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat investment grade.

Suahasil, yang menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan sebelumnya memimpin Badan Kebijakan Fiskal, menawarkan unsur kontinuitas dalam pengelolaan fiskal. Sementara itu, data BI menunjukkan transaksi neto nonresiden di SRBI sebesar minus Rp2,96 triliun pada 7–10 September, ketika imbal hasil obligasi AS tetap tinggi. Di sisi lain, Cadangan Devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,5 miliar pada Agustus dari US$145,3 miliar pada Juli.

Dolar Menguat, Minyak Kembali Melonjak

Tekanan eksternal datang dari Indeks Dolar AS (DXY) yang bergerak naik ke sekitar 99,54, sementara imbal hasil Treasury AS 10-tahun tetap mendekati level psikologis 5%. Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed setelah IHK (CPI) inti AS Agustus naik 0,3% secara bulanan, lebih tinggi dari prakiraan 0,2%. Probabilitas kenaikan 25 basis poin pada pertemuan 15–16 September kini berada di kisaran 88,5%, sementara Goldman Sachs dan JPMorgan telah mengubah proyeksi mereka menjadi kenaikan suku bunga pada September.

Harga minyak juga kembali menjadi hambatan bagi Rupiah. Brent melonjak sekitar 3,7% ke US$108,27 per barel dan WTI naik ke sekitar US$103,51, setelah serangan terhadap jalur pipa East-West Arab Saudi dan meningkatnya ancaman terhadap jalur pengiriman minyak di Timur Tengah memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan. Harga energi yang bertahan di atas US$100 menambah tekanan inflasi global sekaligus meningkatkan perhatian terhadap risiko biaya impor energi Indonesia.

Data AS pada Jumat juga menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen tetap tinggi. IHK utama Agustus naik 0,4% MoM dan 3,4% YoY, sementara survei University of Michigan menunjukkan ekspektasi inflasi satu tahun naik menjadi 4,6% dari 4,0%. Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan lonjakan harga energi membuat fokus pasar pekan ini bukan hanya pada apakah The Fed akan menaikkan suku bunga, tetapi juga pada sinyal Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai kemungkinan pengetatan lebih lanjut.

USD/IDR Masih Bearish, Rp17.500 Jadi Support Kunci

Rupiah menutup perdagangan domestik di Rp17.640 per Dolar AS, tetapi USD/IDR kemudian turun ke sekitar Rp17.595 berdasarkan data ICE pada Senin sore, menunjukkan Rupiah kembali menguat setelah penutupan pasar domestik. Meski demikian, pasangan mata uang ini masih berada di bawah garis tengah Bollinger Band dan MA 100 di kisaran Rp17.684–Rp17.687, sehingga bias jangka pendek USD/IDR masih cenderung bearish. Level angka bulat Rp17.600 menjadi resistance terdekat, disusul Rp17.684–Rp17.687 dan resistance horizontal berikutnya di sekitar Rp17.770, area yang sempat menahan kenaikan pada akhir Agustus hingga awal September.

Di sisi bawah, Rp17.500 menjadi support penting, berdekatan dengan batas bawah Bollinger Band di sekitar Rp17.509. Penembusan area tersebut dapat membawa USD/IDR menuju support berikutnya di sekitar Rp17.410, yang merupakan terendah 12 Mei. Relative Strength Index (RSI) berada di 38,90, masih di bawah level netral 50, menunjukkan momentum USD/IDR tetap cenderung bearish meski belum memasuki area jenuh jual (oversold).

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Yen Jepang: Panduan BoJ krusial untuk kenaikan lebih lanjut terhadap Dolar AS – OCBC

catat ahli strategi OCBC, Christopher Wong, bahwa JPY telah melanjutkan kenaikan, mendorong USD/JPY mendekati level terendah baru-baru ini meskipun harga kenaikan Fed lebih kuat dan imbal hasil AS tenor pendek lebih tinggi. Pasar telah memposisikan diri untuk kenaikan 25bp Bank of Japan (BoJ), dengan posisi spekulatif kini net long JPY.
अधिक पढ़ें Previous

Pound Inggris: Tekanan Penurunan Berlanjut terhadap Dolar AS - UOB

Quek Ser Leang dari UOB mencatat GBP/USD rebound dari 1,3479 ke penutupan di 1,3535 setelah penurunan yang berlebihan, dengan aksi harga dalam perdagangan harian diprakirakan akan konsolidasi antara 1,3485 dan 1,3540.
अधिक पढ़ें Next